Pada suatu kesempatan, saya berkunjung ke salah satu Pusat Rehabilitasi Narkoba dan Gangguan Jiwa. Pusat Rehabilitasi ini telah berdiri sejak lama.saya datang ke sana bukan untuk keperluan tugas, tapi hati saya yang membawa saya kesana. Saya berkunjung ke tempat itu untuk mengikuti kegiatan mereka.Siang itu, saya tiba di Pusat Rehabilitasi itu. Sejenak berhenti di depan gerbang tinggi berwarna biru muda, saya bingung bagaimana caranya masuk dengan pintu gerbang tergembok. Karena saat pertama kali datang ke sana, gerbang itu terbuka. Ternyata alasannya sederhana: gerbang itu perlu dikunci agar pasien tidak mencoba kabur.

Saat diizinkan masuk, ternyata para staff sedang sangat sibuk sehingga saya diminta untuk menunggu di ruang kantor. Tak dapat dipungkiri bahwa saya sangat takut dengan banyaknya pasien yang kelihatan seram- seram, memperhatikan saya. Apalagi jika saya mengingat pernyataan salah satu staf di wawancara awal, “Klien kami ada yang masuk sini karena pecandu narkoba, stres, atau bahkan ada yang sudah gila. Staf kami ada 10 orang untuk merawat 75 orang pasien”

Saat berkeliling ke tempat tinggal pasien, ada dua gerbang lagi menanti. Gerbang pertama mengarah pada tempat tinggal pasien pria. Sedangkan gerbang lain mengarah pada tempat tinggal pasien wanita. Gerbang itu tergembok dan terdiri dari jeruji besi, sehingga kita bisa melihat suasana di dalam. Terdapat kamar-kamar kecil yang berjejer. Sedangkan melalui gerbang wanita, saya tidak bisa melihat bagaimana suasana kamar pasien, karena kamarnya berada jauh di dalam. Dan saya tidak diizinkan untuk masuk ke dalam gerbang itu karena termasuk orang asing di sana.Di belakang saya adalah gerbang tempat tinggal pasien pria

Tak jarang terdengar suara teriakan dari balik gerbang itu. Hal itu yang membuat saya sering bergidik ngeri, namun berusaha menyembunyikan ekspresi wajah. Saya dan salah satu teman hanya berkeliling sambil menunggu acara pengobatan dimulai, sedangkan teman saya yang pemberani itu mengobrol dengan pasien. Satu tips komunikasi dengan pasien yang saya dapat dari seorang Bapak yang mengurusi pusat rehab itu adalah : “Mereka senang diajak bicara seperti anak-anak. Jadi ketika berbicara dengan mereka, lakukan seperti berbicara dengan anak-anak.”

Pengobatan gratis dimulai dengan pasien wanita. Saya ikut duduk bersama pasien itu. Satu per satu pasien dipanggil. Ada yang sedikit nakal sehingga harus berkali-kali dipanggil, ada yang tertawa-tawa sendiri saat menunggu, ada yang diam termenung, dan ada yang tidak mau diperiksa. Pasien ini adalah seorang wanita berusia sekitar 30 tahun. Dia hanya duduk di belakang dan mengomel dengan suara keras. “Aku kan bukan pejabat. Pejabat duduknya di depan. Aku kan nggak dapat penambahan pendidikan, jadi duduk di belakang. Aku nggak mau diperiksa!” Itu hanya sedikit kutipan dari omelannya. Para pasien berjalan menuju aula. Tak jarang beberapa pasien bertanya pada staf “Mamakku ada nelpon?” “Anakku ada datang?” atau “Kapan aku bisa keluar, Buk? Bosan kali di sini”. Hati ini mencelos jika mendengar pertanyaan mereka itu. Puncak rasa sakit mendengar keluhan pasien adalah ketika seorang pasien wanita curhat pada staf dan kebetulan sedang ada kami di sana “Kak, kurasa mamakku udah gak sayang lagi sama aku. Aku harusnya udah keluar dari sini. Aku kan udah sembuh. Orang sakit yang ada di sini. Kalau udah sembuh, mana mau ada di sini. Mungkin keluargaku anggap aku sampah. Gak dianggap jadi anak. Dibuang di sini kayak sampah. Atau aku dianggap kayak anjing,” ujarnya berapi-api.

Saya mengobservasi pasien wanita itu. Dia sepertinya memang sudah sembuh, karena saat diajak bicara, dia masih cukup ngerti dan nyambung. Hanya memang pandangan matanya sulit fokus dan kadang gestur tubuhnya aneh. Salah satu teman saya iseng bertanya “Emang kalau pulang, mau ngapain?” Dia menjawab “Kalo pulang, aku dapat angpao kalo imlek. Udah berapa tahun aku gak dapat angpao. Di luar pun bisa kerja dan nikah. Aku mau cari pasangan dan nikah. Nanti kalo udah terlalu tua, perempuan susah dapat suami. Terus aku mau kerja. Di sini kan gak bisa dapat uang.”

Mungkin itu hanya salah satu curahan hati pasien yang menyentuh hati nurani. Kisah lain datang dari pasien berusia 21 tahun. Dia adalah korban penganiayaan ayahnya sejak kecil. Meskipun kini ayahnya sudah meninggal, namun ia masih belum berani pulang ke rumah. Ketika berkomunikasi dengan orang lain, matanya tak berani melihat ke mata lawan bicara. Mungkin itu adalah pengaruh dari pengalaman dianiaya yang dialaminya dulu. Namun ia adalah sosok yang ramah dan santun apalagi ketika dipuji.

Pasien lain yang menarik perhatian saya adalah dua orang pasien pria yang kaki dan tangannya dirantai. Wajahnya begitu tidak bersahabat. Namun ia patuh ketika dipanggil untuk diperiksa. Ketika kami tanya alasan pasien itu dirantai, jawabannya adalah “mereka sering mencoba kabur atau berperilaku kasar, makanya dirantai”. Kemudian ada pasien yang tidak bisa berjalan sehingga harus dibopong oleh dua orang pasien lain. Dari hasil observasi saya dan teman-teman, bapak itu sepertinya tidak benar-benar lumpuh. Ia sepertinya mampu berjalan, namun ia tidak ingin berjalan sendiri.

Beberapa pasien yang saya ungkapkan tadi hanyalah segelintir dari 73 pasien yang ada. Satu hal yang pasti adalah bahwa pasien juga manusia, seperti kita. Yang membedakan hanyalah mereka sedikit kurang beruntung karena fisik dan mental mereka lebih lemah dibandingkan kita. Ketika menghadapi stres, kejiwaan (mental) mereka tidak mampu bertahan. Patah hati, masalah keluarga, kekurangan atau kelebihan kasih sayang, dan faktor kandungan menjadi penyebab umum pasien di sana masuk ke Pusat Rehabilitasi ini.

Bersyukurlah. Hidup kita lebih beruntung dari mereka. Mungkin saat ini kita merasa bosan jika berada di dalam kelas (bagi yang masih sekolah atau kuliah) atau merasa bosan dalam pekerjaan, tapi bayangkan betapa bosannya pasien yang harus terkurung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di tempat itu dan harus menahan rasa rindu kepada keluarga. Mungkin saat ini kita muak dengan makanan yang dihidangkan di rumah, tapi bayangkan bagaimana makanan pasien yang ada di Pusat Rehab itu.

Mungkin saat ini kita merasa kurang bebas dengan hidup kita. Merasa dibatasi atau dikekang oleh orang tua atau merasa terganggu dengan tanggung jawab sebagai manusia. Tapi bagaimana dengan pasien yang harus terkungkung oleh gerbang dan tidak mendapat hiburan selain ketika melakukan kebaktian? Bandingkan kebebasan yang kalian miliki dengan kebebasan yang mereka miliki. Tidak sebanding, Kawan! Bersyukurlah. [Jd]

Sang Preman Mati Karena Narkoba